Sabtu, 14 Mei 2016
Selasa, 03 Mei 2016
Kisah di Balik Jilbab
Oleh : Kabar Dakwah, Edisi XIV, September-November 2015
Pada suatu tahun, kaum muslim keluar untuk mencari hilal ramadhan, dipimpin langsung oleh sahabat Nabi yang mulia, Anas bin Malik Al-Anshari. Ketika itu, usia beliau hampir mencapai seratus tahun.
Orang-orang memperhatikan seluruh penjuru langit, namun mereka tidak melihat apapun. Akan tetapi, Anas terus mencari-cari, lalu beliau berkata “Aku telah melihat hilal, itu dia!” sambil menunjuk kelangit dengan tangannya. Padahal, tak seorang pun yang melihatnya selain beliau.
Ketika itu, Iyas bin Mu’awiyah memperhatikan Anas radhiyallahu ‘anhu; ternyata ada sehelai rambut panjang yang berada di alisnya, hingga meenjulur di pelupuk matanya. Dengan santun Iyas meminta izin untuk merapikan Anas yang menjulur itu. Lalu Iyas bertanya, “Apakah Anda masih melihat hilal itu sekarang, wahai sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”
Anas radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Tidak,aku tidak melihatnya. Aku tidak melihatnya.”
(http://kisahmuslim.com/iyas-bin-muawiyah-al-muzanni-tabiin-cerdas-dan-jenius-dimasanya// salah satu redaksi riwayyat ini dalam versi bahsa rab bisa dilihat di http;//www.saaid.net/mktarat/Ramadan/108.htm).
Kadag orang lain menatap aneh pada jilbab Anda yang mengulur kerena merka belum mengenal kriteria jilbab yang dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kadang orang lain salah paham atas diri Anda karena mereka belum mengenal Anda. Ada sehelai rambut panjang yang menutupi pandangannya.
Bagaikan Iyas yang cerdas, coba Anda rapikan rambut itu agar mereka bisa melihat dengn lebih jelas. Agar mereka bisa melihat syiar Islam yang sedang Anda jalankan. Dengan tangan, Iyas merapikan rambut Anas bin Malik agar pandangan Anas bin Malik lebih jelas. Maka, Anda……
Dengan ucapan salam, runtuhkanlah penghalang antar diri Anda dengan dunia luar. Bila Anda berpapasan dengan sesame muslimah, katakanlah,”Assalamu ‘alaikum.”Tua ataupun muda, jangan sungkan untuk lebih dahulu mengucapkan salam.
Dengan sapaan, cairkan kekakuan antara diri Anda dengan dunia luar. Bila Anda edang belanja sayur, tak ada salahnya memulai percakapan ringan dengan ibu pemilik warung, “Warung sayur ini buka jam berapa ya, Bu?”
Dengan berjabat tangan, tunjukkan kasih sayang sesama muslimah. Bila anda shalat disebuah mesjid dan berjumpa dengan musslimah lain yang lagi shalat, tak ada salahnya Anda mengucapkan salam seraya tersenyum dan menjulurkan tangan.
Mungking orang tidak tahu karena mereka sungkan bertanya kepada Anda. Mungkin mereka sungkan bertanya karena segan menyapa duluan. Jadi, dengan bersikap hangat dan ramah terhadap sesama muslimah, baik tua maupun muda, insyaallah akan sirnalah tanda Tanya dan keheranan yang bergelantungan di benak mereka.
Muslimah…….
Di balik jilbabmu ada hati,
Dan hati itu penuh kasih
cara membuat email baru
Buktikan Cintamu Karena Cinta Butuh Pengorbanan
Tak ada manusia yang mampu men-definisikan cinta secara sempurna. Tak manusia yang bisa menjelaskan secara pasti tentang bagaimana sebenarnya cinta bekerja pada seorang manusia ; Bagaimana sebenarnya cinta membuat seseorrang menangis dan tertawa ? Mampu membuat seseorang sumringah dan bermasam muka ? Bagaimana cinta mampu mencairkan segala suasana ? Cinta telah mampu menemani beragam perjalanan rasa seorang manusia. Dan begiyu uniknya, cinta juga telah mampu membuat seseorang rela berkorban demi cintanya.
Demikianlah cinta, kalaulah ia benar adanya pada diri seseorang, orang tersebut akan dengan sendirinya rela berkorban hanya untuk membahagiakan orang yang dicinta, atau juga hanya sekedar demi mendapatkan ucapan terima kasih darinya.
Sewajarnya bila berbicara tentang cinta, yang pertama kali muncul di benak seorang muslim adalah bagaimana cintanya pada Sang Pencipta. bukan melulu tentang cinta pada lawan jenis, orang tua-anak, atau harta benda. Setiap muslim yang mengaku mencintai Allah seharusnya rela berkorban untuk menaati segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagai bukti atas kejujuran cintanya kepada Allah.
Simbol kejujuran cinta dan pengorbanan yang hakiki kepada Allah telah terdapat dalam kisah keluarga Nabi Ibrahim, sang khalilullah (kekasih Allah). Sebuah kisah yang telah Allah abadikan dalam kitab-Nya, Al-Qur’an. Kisah tersebut bermula pada penantian panjang Nabi Ibrahim sebagai seorang ayah untuk memiliki seorang anak. Setelah bertahun tahun Nabi Ibrahim menunggu dan memohon kepada Allah agar diberikan seorang anak yang soleh, baik dari istri pertamanya maupun istri keduanya. Hingga akhirnya Allah mengabulkan doa Nabi Ibrahim dan menganugrahkannya seorang putra yang bernama Ismail.
“(Ibrahim berdoa) ‘ya Rabbku, anu-gerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang orang yang shalih’. Maka kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang halim (cerdik dan bijaksana)” (Qs. Ash-Shaffat : 100-101).
Namun ketika Nabi Ismail beranjak dewasa, Nabi Ibrahim di berikan Wahyu oleh Allah SWT untuk menyembelih anak kesayangannya itu. dan Nabi Ibrahim pun menjalankan wahyu yang telah di berikan padanya setelah ia berunding dan membicarakan hal tersebut kepada Nabi Ismail. Setelah Allah meliha kejujuran Ibrahim dan Ismail dalam berkorban, Allah pun memerintahkan agar penyembelian tersebut dihentikan dan digantikan dengan seekor hewan.
“ Maka ketika keduanya keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya. Lalu kami seru dia: ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu,’ Sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar”(Ash-Shaffat: 103-107).
Pada akhirnya Nabi Ibrahim memang tidak menyembelih putra kesayangannya. wahyu yang Allah kirimkan lewat mimpi hanyalah untuk membuktikan kejujuran cinta Nabi Ibrahim terhadap Allah dan untuk menguji seberapa besar Ibrahim rela berkorban. Namun demikian, tatkala Ibrahim telah membuktikan cintanya dengan rela berkorban, Allah pun memberikan balasan yang sangat besar, yaitu dengan mengabadikan kisah mereka.
“Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim” (Ash-shaffat: 108-109).
Hingga hari akhir kelak nama Ibrahim dan keluarganya akan senantiasa disanjung sanjung dengan salawat di dalam setiap shalat seorang musli. “kama sholaita ‘ala Ibrahim wa’ala aali Ibrahim......... kama barakta ‘ala Ibrahim wa’ala aali Ibrahim..”. Kaum muslimin pun setiap tahun memperingati Idul Adha dengan menyembelih hewan kurban sebagai peringatan atas peristiwa agung Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Juga beberapa peristiwa dalam kejadian Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tersebut Allah jadikan bagian dalam rangkaian ibadah haji.
Kisah Nabi Ibrahim bisa menjadi motivasi bagi kita agar mau berkorban apa saja untuk Allah, untuk membuktikan kejujuran cinta kita.
Cinta butuh pengorbanan adalah pasti dan Cinta tanpa rela berkorban perlu di pertanyakan kejujurannya












